OOB vs OOS

OOB vs OOS

Rahasia si Untung. Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.

Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang beruntung dengan orang yang sial. Seperti judul tulisan ini “OOB dan OOS” yang kepanjangannya “orang-orang beruntung dan orang-orang sial” penulis menyingkatnya agar lebih mudah penyebutannya dalam penulisannya. Kembali ke penelitian Prof. Wiseman[1].

Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesannya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang OOB bertindak berbeda dengan mereka OOS. Misalnya, dalam salah satu penelitiannya: Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah gambar dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. OOS memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok OOB hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa? Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompok OOS melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah-tengah koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti, bahwa Anda menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok OOS melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaim “scientific” ini, penulis  menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial. Yaitu;

1. Sikap terhadap peluang.

OOB ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan?

Ternyata OOB memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Sementara OOS lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan yang baru.

Sebagai contoh:

Ketika Sumihar Deni seorang pemilik toko permata di Indonesia hendak menjual toko permatanya, tanpa disengaja sewaktu Ia berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Bpk. Latstra!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Deni berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Evilandi Latstra, salah seorang investor terbesar di Indonesia, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permatanya. Maka Deni segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Evilandi Latstra. Perkenalan pun terjadi dan Deni yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Evilandi Latstra, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Latstra, face to face. Setahun kemudian Latstra setuju membeli jaringan toko permata milik Deni. Betul-betul beruntung.

2.Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.

Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari gut feeling. Yang barangkali sulit bagi OOS adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya OOB umumnya memiliki metode untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.

Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba-tiba ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? __Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba-tiba mendengar suara yang tidak ketahuan sumbernya, bisa-bisa saya jatuh pingsan. Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang benar dengar suara. Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:
– Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba-tiba deg-degan ya, mau dapat rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat-isyarat tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba-tiba meriang kalau mau dapat deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi. – …

…Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih mengenakan seragam putih abu-abu, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi Universitas Negeri Jakarta sepulang saya bermain di Chik pulogadung. Beberapa tahun kemudian saya ternyata mengenyam pendidikan di instuti tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.

Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, “Bagaimana prospek bisnis kedepan?”. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.

OOB sangat pandai menghadapi situasi buruk dan mengubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam jurnalisme sastra lain misalnya; OOB dan OOS diminta membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi dari kelompok OOS umumnya adalah: “wah sial bener ada di tengah-tengah perampokan begitu”. Sementara reaksi OOB, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan mendapatkan uang dari media”.

Apapun situasinya OOB pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan mengubahnya menjadi keberuntungan. Sekolah Keberuntungan. Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School. Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat “Lucky Diary“, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan
semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan. Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction“, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk teman-teman semua. Selain 4 faktor yg dikemukakan di atas, tentu teman-teman ingat film ‘Oshin’ kisah gadis jepang yang lahir dari keluarga miskin…film tahun 80an yg mengisahkan masa kecil si Oshin yg miskin bergulat dgn kesulitan sampai akhirnya hidup sukses di masa tuanya..pasti tau dong film serial ini. Si Oshin ini semenjak kecil sampai besar selalu bergelut sama kemiskinan. Karena ketabahan dan kejujuran si Oshin sampai akhirnya hidup sukses di masa tuanya. Sekilas kalau dipikir2 mungkin point ini bisa ditambah jadi salah satu faktor untuk jadi orang beruntung..walaupun ada orang yg belum merasa jadi orang beruntung, tapi hitung2 ‘berpikiran positip’ bisa mendorong kita untuk bekerja keras pantang menyerah. Kalau menurut saya, keberuntungan bagi setiap orang itu tidak sama. Ada orang yg beruntung hanya makan nasi sekali dalam sehari, tapi dalam kata kasarnya lebih pas kalau menyebut ‘bisa makan hari ini merasa beruntung’, karena kalau melihat orang yg tidak bisa makan berhari2 jadi merasa beruntung. Jadi kalo dilihat dari faktor keberuntungan jelas orang yg bisa makan sekali dalam sehari lebih beruntung dari orang yg tidak bisa makan berhari2.

Terkadang dalam hidup kita ini banyak peluang-peluang yang datang. Jangan lupa keberuntungan itu tidak selalu mengenai ‘uang’ dan ‘kemakmuran’. Orang yang hidupnya berlimpah uang belum tentu beruntung. Tapi menurut saya tidak ada orang di dunia ini yg tidak beruntung..karena arti ‘keberuntungan’ itu tidak ‘sesempit’ kalimat ‘tidak bisa makan hari ini’ atau ‘tidak memiliki uang sepeser pun’..

Saya jadi ingat ketika membaca sebuah cerita dari India mengenai seseorang yang ingin merasa beruntung. Kata orang ini, “saya tidak pernah merasa beruntung, saya melihat orang2 disekitar saya hidup makmur, harta berlimpah, tapi saya kok hidup masih senin kamis, harus bekerja keras berkeringat siang malam. sedangkan saya lihat hidup mereka tidak pernah bekerja sesekeras saya tapi hidupnya enak. Lalu tengah malam orang ini bermimpi ada orang tua yang berkata kepadanya bila ingin melihat orang yang beruntung pergilah ke sebuah tempat yang bernama ‘Ganisa’ letaknya sekitar 20km dari tempatnya. Lalu orang ini besok paginya beranjak dari tempat tidurnya dan pergi 20km ke tempat yang bernama Ganisa ini. Ketika sampai kok tidak ada tempat yang bernama Ganisa…ada juga Ganesa kota yang berjarak 20km ini dan tidak ada tempat bernama Ganisa…ada juga rumah sakit ‘Ganisa’…Orang ini berpikir mungkin dia salah nangkap mimpi, karena tidak mungkin rumah sakit ini jadi tempat beruntung pikirnya. Tidak ada salahnya bertanya ke rumah sakit ini…Maka ditanya satu persatu orang di rumah sakit ini, dari dokter, perawat, sampai pasien yang sakit pun ditanyai. Orang pertama yang ingin ditanyai adalah seorang dokter…tapi sebelum ditanya, dokter itu berkata,”wah saya beruntung bisa menyelamatkan pemuda yang hampir mati kena gigitan ular kobra…” lalu melihat dokter itu sibuk dengan pasiennya, ia berbalik bertanya kepada perawat di sebelahnya…sebelum ditanya perawatnya berkata “hari ini saya merawat seorang pengendara motor yang tidak bisa ditolong lagi jiwanya…sungguh beruntung anaknya tidak ikut terenggut jiwanya dalam kecelakaan tersebut..” Merasa tidak enak ingin bertanya dalam situasi tsb berjalanlah dia kedalam rumah sakit. Di dalam ruangan pesakitan tsb dilhat lah banyak orang yg berbaring. Merasa beruntung berkata lah orang ini dalam hatinya’ saya sungguh beruntung tidak apa2..bila saya tanya satu persatu org2 ini, mungkin saya merasa yg paling beruntung” Puas dgn jawaban maka pulanglah orang ini dgn ketekatan hati: “hari ini saya melihat arti keberuntungan..ada banyak orang yg tidak seberuntung saya..”

wisdom mengenai ‘keberuntungan’: “Bagi orang yg merasa tidak beruntung bertanyalah kepada orang2 yg tdk beruntung, maka anda akan merasa andalah orang beruntung. Ada berjuta2 orang di dunia yg tidak menyadari keberuntungan dalam hidupnya sampai suatu ketika tidur di kasur pesakitan.

-peaceBeberapa
Adab dan Kebiasaan Yang menunjang mudahnya terbuka Jalan Rezeki

1. Rajin2 sholat sunnah dhuha , tapi yg ikhlas bukan karena terpaksa atau terbebani…

2. Sering2 sedekah, dengan syarat yg ikhlas juga….

3. Pada saat sholat, berdoa saat sujud…

4. Pada khutbah sholat Jumat, jangan lupa berdoa..”diantara” dua khutbah!!

 Kalo kita gak pelit, maka rejeki yg masuk juga gak ‘pelit’ berdoa antara Azan dan Qamat, Berdo’a di Raudhah, Masjid Nabawi, dan berdo’a di Masjidil Haram, intinya di waktu2 yang baik dan istimewa dan di tempat2 istimewa JUJUR, banyak ISTIGHFAR, dan Banyak SEDEKAH Jangan tidur terlalu sore, biasakanlah bangun pagi (sebelum matahari terbit) dan hindari bangun kesiangan…(konon kabarnya einsten suka bangun malam buat mikirin kejadian alam) Banyak-banyak mendekatkan diri pada-NYA, dan pasrah kepada setiap keputusan yang diberikan-NYA… Teruslah berikhtiar/bekerja, alias jangan duduk dan bengong-bengong aja. Jangan pernah putus asa dalam berusaha… Jangan lupa untuk selalu menguatkan niat dan bulatkan tekad setiap hari untuk meraih keberhasilan dan kesuksesan didalam hidup…

 Diunduh dari Kaskus pada 14 Oktober 2010 dan dikembangkan oleh Evilandi Latstra


[1] Kaskus “Wiseman riset”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s