Bagaimana Mungkin Ibu Membenciku

Ibuku,

Ibuku tidak banyak bicara. Aku dapat menghitungnya dengan sepuluh jariku, berapa kata yang diucapkan ibuku setiap hari. Ibuku hanya membangunkanku setiap pagi dengan memanggil namaku, dan mengajakku sarapan hanya dengan dua atau tiga patah kata.

Setelah itu,

Beliau tidak akan berbicara apapun sampai saatnya ia berangkat kerja, dan pulang setelah aku terlelap. Jika aku belum tertidur — mungkin waktu itu aku berniat menunggunya — dan melihat ibuku sudah pulang, beliau hanya bertanya mengapa aku belum tidur. Ibu tak menunggu jawaban, alih-alih beliau langsung memasuki kamarnya tanpa keluar hingga esok menjelang.

Ibuku mungkin membenciku,

Setiap akhir semester sekolah, aku berharap ibuku berbicara lebih padaku. Karena aku berusaha enam bulan lamanya untuk mendapat peringkat tertinggi. Untuk mendengar beliau mengatakan sesuatu yang lebih dari sekadar memanggil namaku.

Apapun – misalnya pujian. Nyatanya tidak, beliau hanya tersenyum tipis melihat angka satu yang tertera di lembar itu, dan mengusap kepalaku. Tanpa sepatah katapun.

Apakah Ibu membenciku?

Aku menginjakkan kaki di universitas dengan beasiswa.

Pun ibuku tidak banyak komentar. Aku lulus dengan nilai tertinggi, namaku beserta namanya membahana di seluruh sudut dome. Namun ia tidak mendengar. Ia memilih memilin keretek di pabriknya.

Aku yakin ibu membenciku,

Sepuluh tahun berlalu semenjak aku selalu mempertanyakan kecintaannya padaku. Tentu saja beliau tidak pernah menjawab, pun aku terlalu takut mendapat jawaban darinya.

Sekarang,

Aku sudah mengenakan setelan rapi dan berdiri di ruangan tempat ibuku tinggal semenjak lima tahun yang lalu. Ini sudah yang kelima kalinya minggu ini aku kemari. Keseribu sekian kali aku di sini.

Membujuknya untuk pulang,

Aku mengusap tangannya yang lembut. Tangannya ringkih, hanya berbalut kulit yang melayu. Aku menatap matanya yang redup. Tengah matanya berwarna kelabu — katarak.

Kata dokter.

Beliau tidak pernah mau jika kuajak berobat. Tentu saja ia menolak dengan gelengan kecil dan berkata biarkan saja tanpa meladeni argumenku setelahnya.

“Ayo pulang, ibu,”

Ajakku lembut. Ini merupakan ajakan kesekian kalinya tiap aku datang. Beliau bergeming.

Pun saat ini, beliau hanya menggeleng.

“Ibu disini saja.”

“Di rumah saja. Biar Ben bisa bersama ibu.”

Beliau menggeleng.

Sungguh, aku tak mengerti mengapa ibu memilih panti jompo ini ketimbang rumahku. Maksudku, apa yang kurang dari rumahku dibandingkan tempat kumuh dengan puluhan orang tua yang bercampur di sini? Terlebih, di tempat ibu tinggal —bersama orang sepuh lain yang penyakitan itu — sungguh bukan main baunya. Bau busuk dari gangren, bau muntahan, bau pesing dari pipis yang bercecer di ranjang masing-masing. Kadang muncul bau anyir, atau malah bau kotoran yang belum dibersihkan.

Di sebelah ibuku, ada seorang nenek tua yang terbiasa menjadi pemulung. Ia suka memunguti sampah-sampah yang tercecer dan mengumpulkannya di ranjang. Baunya kadang bercampur aduk dan membuatku mual bukan kepalang.

Pun dengan ranjang reyot tempat tubuh tanpa lemak dan kulit yang menggelambir — semacam enggan bertahan di tulangnya — ibuku tidur. Jika beliau berpindah posisi selalu ada decit dari tiap besinya. Agaknya kerangkanya pun tak tahan dengan tempat ini.

Bagaimana bisa beliau lebih suka tinggal di sini?

“Pulang saja, ibu. Nanti Ben yang akan merawat ibu,” bujukku lagi. Mungkin ibuku takut tidak ada yang merawat di rumah.

“Enak di sini, Benyamin. Banyak temannya,” elak ibuku.

Beliau selalu memanggil nama lengkapku, meski aku suka menyebut namaku dengan singkat. Katanya, itu nama pemberian ayahku. Bahkan aku tidak tahu bagaimana rupa ayahku.

Aku menyerah hari itu.

Esok kucoba lagi, pikirku. Lantas kami lanjut bercerita. Atau lebih tepatnya, aku yang bercerita tentang niatku membuka cabang ketiga tokoku, istriku yang hamil anak kedua dan anak laki-lakiku yang mulai suka bertanya apa saja.

Tiba-tiba ibuku terbatuk. Keras sekali seperti tenggorokannya mau meloncat dari mulutnya. Di tangannya bercak darah menjadi-jadi. Ini sudah kesekian kalinya. Dadaku seketika mencelos.

“Ibu, batuk ibu semakin parah dan semakin sering. Darahnya semakin banyak. Ke rumah sakit, ya, bu?” pintaku, separuh memelas. Permintaan ini pun bukan sekali dua kali aku mengatakannya.

Beliau menggeleng, dan aku semakin bersikeras. “Ayolah, bu…”

Ia tetap saja menggeleng.

“Ibu tidak apa-apa,” katanya. “Ini normal bagi orang tua.”

Semacam aku akan percaya saja. Aku memang belum pernah menjadi orang tua, tapi tentu saja aku tahu bahwa batuk dengan dahak darah tidak akan pernah menjadi sesuatu hal yang lumrah.

Ibu terbatuk lagi.

Darahnya keluar lagi, setetes mengucur dari sudut bibirnya yang kering. Aku sungguh ingin menangis, menjambak rambutku dan berteriak padanya bahwa darah itu semakin banyak. Aku ingin membopongnya ke rumah sakit meski tanpa persetujuannya atau apapun yang keluar dari mulutnya.

Ibuku memegang dadanya, sedikit merintih. Aku rasanya ingin gila. Beliau menarik napas beberapa kali, dan melepaskan cengkeraman tangannya di dada.

“Pulanglah. Ibu ingin tidur. Besok kamu tidak usah datang.”

Aku ingin mengomel padanya. Namun ia bergegas menarik selimut dan meringkukkan tubuhnya yang kecil di baliknya. Beliau memunggungiku, dan aku merasa kehilangan akal.

Pasti ibu membenciku.

Aku meninggalkan bangsal. Berniat menuju kantor panti jompo untuk meminta izin membawanya ke rumah sakit. Betapapun beliau membenciku. Betapapun beliau ingin aku tidak menjenguknya.

Namun,

Aku baru saja setapak masuk ke dalam kantor panti, kala beberapa perawat berbondong-bondong berlari ke dalam bangsal. Bangsal ibuku. Mereka tergopoh bak orang kesetanan. Aku berbalik arah, mengikuti mereka. Perawat-perawat itu berkerumun di ranjang ibuku.

Jantungku sesaat berhenti, lantas memacu darah secepat-cepatnya. Desirannya dapat kurasakan di sekujur tubuh.

Perawat-perawat itu panik. Salah seorang naik ke atas ranjang dan menumpukan dua tangannya di atas dada ibuku. Seorang beberapa kali meniupkan napas buatan. Dan beberapa yang lain saling menyahut memanggil nama ibu.

Aku berlari mendekat.

Otakku memberi peringatan bahwa sesuatu yang terburuk sedang terjadi. Aku tak mendapat apapun penjelasan. Aku menunggu, dengan pikiran yang menyalang kemana-mana. Beberapa menit kemudian — yang bagiku terasa berjuta tahun— mereka mengonfirmasi bahwa ibu;

Sudah meninggal.

Aku tercenung. Ibuku meninggal, dengan masih membenciku.

Aku berdiri di makamnya.

Masih basah oleh hujan tadi malam. Kembang di atas nisannya tak banyak, pun itu sudah layu karena beliau meninggal satu minggu yang lalu.

Kepala panti jompo menyerahkan beberapa kopian berkas tadi pagi. Dokumen-dokumen pemeriksaan dan deteksi kanker. Kanker rahim stadium empat,

Katanya,

Karena itu tubuh ibu semakin lemah dalam satu tahun belakangan. Sudah menjalar ke paru-paru, lanjutnya. Karena itu dahaknya mengeluarkan darah. Kepala panti menjelaskan banyak perihal, yang tidak bisa aku dengar.

Telingaku menuli pada kenyataan.

Adalah satu yang kudengar saat beliau menepuk punggungku.

“Ibumu bukannya tidak ingin pulang ke rumah. Dia tidak mau merepotkanmu yang baru membangun usaha, dan keluarga kecilmu yang sedang berbahagia. Percayalah, beliau menyayangimu.”

Aku menangis di atas nisannya. Ibuku ternyata tidak pernah membenciku.

Semoga Bermanfaat Bagi Kita Semua…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s