Bukit Dewa Tula, Bima – Indonesia

                     Kantor walikota Bima dari bukit Dewa Tula

Tepat di depan rumahku berdiri sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Bukit Dewa tula, begitu sebagian orang di kampung memberi nama. Saya sendiri tidak begitu tahu dari mana asal nama tersebut. Namun, semenjak kecil nama Dewa Tula sudah begitu melekat dengan bukit yang berada di depan rumahku.

Sekarang, tidak ada pohon besar di bukit ini. Seingatku dulu, ada sebuah pohon mangga besar pada sisi bukit yang menghadap tepat rumahku. Namun, katanya sudah ditebang sekitar sepuluh tahun yang lalu. Praktis bukit ini hanya ditumbuhi semak belukar dan pepohonan lamtoro yang dari dulu hingga sekarang tak kunjung besar. Beberapa pohon sirsak yang yang dulu selalu ranum berbuah dan biasa ku petik kini semakin berkurang, kalaupun ada menurutku takkan menjanjikan buah sirsak sebanyak dulu.

Kalau bukan karena ayah saya yang berhasil membunuh seekor tikus besar komplit dengan tiga ekor anaknya, tak bakal saya mendaki bukit Dewa Tula. Siang itu, saya kebagian tugas dari Ayah melenyapkan hama pengganggu itu di rumah dengan membuangnya di atas bukit. Sebuah plastik besar berwarna kuning berisi empat ekor tikus hasil perburuan Ayah di samping kamar mandi menjadi paket yang segera harus saya buang. Mendaki bukit Dewa Tula pun harus saya lakoni demi tugas suci nan mulia, walaupun setelah sekian lama saya tidak pernah lagi menapakkan kaki di bukit itu.

Pada setiap musim garoso (sirsak), saya dan beberapa orang teman masa kecil selalu menyempatkan berburu buah yang manis ini. “dei garoso,” begitu orang Bima menyebutnya. Dulu kami selalu berebutan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya garoso untuk dibawa pulang. Kalau kebetulan buah garoso tak terjangkau tangan atau dahannya terlalu kecil untuk dipijaki, sebatang galah kecil yang kami bawa sukses menjalankan tugasnya. Setelah mengantongi beberapa buah garoso untuk dinikmati, kami mengumpulkan seikat besar daun lamtoro untuk pakan ternak kambing di rumah masing-masing untuk menyogok orang tua yang terkadang melarang kami bermain di bukit.

Bagi warga yang berdiam sedikit lebih jauh dari kaki bukit, Dewa Tula terbilang angker. Pernah kejadian salah seorang anak tetangga rumahku entah bagaimana ceritanya raib dari kamar di subuh buta. Warga kampung mencari ke seluruh tempat, dan ajaibnya sang bocah ditemukan sedang pulas tertidur di salah satu dahan pohon mangga yang kini sudah ditebang.

Di puncak bukit juga tak kalah kental aura mistisnya, sebatang pohon kamboja besar tanpa daun berdiri hingga kini. Dulu sering kami melihat semacam sesajen yang diletakkan oleh orang-orang yang konon mencari ilham, atau mungkin sekadar mengadu peruntungan dengan meminta nomor togel cantik pada penunggu bukit. Entahlah… malah dulu sering saya menemukan sisa api unggun, tulang ayam berserakan, dan bulu ayam di sekitar pohon yang entah kebetulan atau tidak warna bulu ayam di bawah pohon kamboja itu persis sama dengan ciri-ciri ayam tetangga kampung ku yang hilang kemarin malam.

Kami, anak-anak di lingkungan sekitar bukit tak pernah memandang bukit kecil ini angker. Malah ribuan kesenangan telah kami dapatkan dengan menjadikan Dewa Tula sebagai tempat bermain dan beraktivitas. Mulai dari bermain petak umpet, perang perangan (lewa pehe), mencari jamur, berburu gagang katapel (haju ncanga), dei garoso, menerbangkan layangan dan mengadu dengan tetangga kampung, mencari pakan kambing, atau sekedar duduk di batu besar dan memandangi seluruh penjuru kota dengan takjub.

Usai membuang bangkai tikus di atas bukit, kembali saya mengulang nostalgia masa kecil. Dari sebuah batu besar di puncak bukit saya duduk dan memandangi kearah Kota Bima yang semakin berubah. Lingkungan tempatku tinggal tentunya yang pertama ku pandangi, begitu banyak bangunan sekarang.

Sangat kontras dengan dahulu sewaktu saya kecil, rumah-rumah panggung itu tak ada lagi berganti bangunan berbatu bata dan semen. Sekolah SDN Inpres yang dulu berbentuk lazimnya sekolah dasar di negeri ini sekarang begitu megahnya berdiri, dari sini saya masih bisa melihat jelas ruang-ruang kelasnya yang berlantai dua. Dari jauh terlihat banyak tonggak-tonggak raksasa, tower-tower operator seluler berdiri seakan saling bersaing menyetuh langit. Begitu berbeda, pikirku. Setidaknya gambaran yang belum berubah sampai kini adalah hijaunya hamparan dataran di depanku. Bima masih sama hijaunya seperti gambaran pendakian bukit ini dimasa kecil ku dulu.

Kembali kakiku menjelajahi sisi bukit yang lainnya, di sebelah utara bukit yang dulu merupakan kebun kepunyaan salah seorang tetua di kampung sudah berubah fungsi menjadi kandang-kandang ternak. Tidak kurang dari 15 ekor sapi terlihat terikat di kandang yang terbuat dari kayu dan bambu. Beratapkan terpal, kandang sapi-sapi itu disekat antara satu dengan lainnya.

Menurut orang-orang yang kutemui di tempat itu, mereka mengaku sapi-sapi itu bukan miliknya. Mereka hanya diserahi tugas merawat dan menjaga sapi bali itu dari pemilik aslinya dengan sistem bagi hasil. Dari beberapa ekor sapi yang dilahirkan, sebagian akan menjadi kepunyaan sang perawat. Menurutku aneh memelihara sapi dalam kandang dengan kondisi tempat yang berada di puncak bukit, pastinya tidak mudah bagi mereka naik turun untuk mengangkut air dan pakan ternak berupa ampas pabrik tahu dengan kondisi medan yang terjal seperti di bukit ini.

Semasa ku kecil, warga yang mendiami bagian timur dan timur laut bukit Dewa Tula terkenal dengan usaha pembuatan genteng tradisionalnya. Di sekitar sungai kecil (lingkungan Rasabou) dulu berdiri banyak rumah-rumah sederhana tempat pengerajin mengolah dan menyiapkan tanah liat menjadi sebentuk genteng yang siap dijual. Beberapa tungku besar tempat genteng-genteng yang sudah kering dibakar berdiri di sebelah barat dan timur. Berbeda dengan genteng press yang produksinya menggunakan mesin, dalam usaha pembuatan genteng tradisional ini semua proses dilakukan dengan tangan, mempergunakan tenaga manusia. Mungkin itu pula yang membuat usaha kecil ini semakin hilang dimakan zaman, apalagi persediaan tanah liat yang semakin menipis. Rumah-rumah tempat pembuatan genteng tradisional itu semakin tak terlihat dari sini.

Tak terasa hari sudah menjelang senja, akupun bergegas menuruni bukit. Membawa cerita baru dari Bukit Dewa Tula mengenai waktu yang berlalu dan menggoreskan perubahan; bagi sebuah bukit kecil depan rumahku, bagi kota tempat ku tinggal, dan bagi diri yang menemukan kembali keceriaan masa kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s