Studi Kasus Penulisan Proposal

keuangan LSM

Salah satu tantangan dalam mencari dana adalah bagaimana melibatkan masyarakat atau penduduk desa dalam proses penulisan proposal.

Pakailah waktu anda untuk membangun hubungan yang baik dengan LSM-LSM yang lebih besar dan ditunjang oleh dana dengan baik. Kumpulkanlah informasi dari perspektif penduduk desa dengan pendekatan yang tidak biasa digunakan dalam proyek pembangunan.

Dari sebuah pulau unik yang tak berpenghuni di Pasifik Selatan, sukarelawati CUSO Laurie Wien menawarkan wawasan informatif tentang bagaimana masyarakat menangani penulisan proposal.

Laurie Wein dan rekannya Dave, adalah staf CUSO yang bekerja untuk Tetepare Descendants’ Association (TDA)- Perkumpulan Keturunan Tetepare: TDA adalah organisasi amal yang berdedikasi dalam melestarikan pengelolaan Pulau Tetepare, pulau tak berpenghuni terbesar di Pasifik Selatan.

Pulau unik ini merupakan tempat hidup satwa asli dan ekosistem laut yang penting, serta diakui sebagai daratan hutan hujan tropis terakhir yang masih ada di Kepulauan Solomon. Dave bertanggung jawab membantu TDA mengembangkan rencana pengelolaan pulai itu, selain juga sebagai staf pelatih dalam melakukan pemantauan sumber daya mahluk laut. Sedangkan pekerjaan Laurie lebih kepada sisi manajemen proyek. Dia mengembangkan proyek kehidupan berkelanjutan dengan masyarakat dan membantu membangun keterampilan eko-pariwisata bagi para anggota TDA. Pekerjaan ini mencakup juga pencarian dana dan penulisan proposal. Laurie menjelaskan:

“Salah satu tantangan dalam mencari dana adalah bagaimana melibatkan masyarakat atau penduduk desa dalam proses penulisan proposal. Saya sering berpikir bahwa anggota masyarakat yang bergabung dengan kami dalam mengerjakan suatu proyek pembangunan merasa terbebani oleh kendala bahasa dan pendekatan cara Barat, misalnya analisis SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunity, Threats = Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan, Ancaman) di papan tulis, serta diskusi yang terlalu cepat bagi pendekatan dialog gaya Pasifik yang cenderung lebih lambat.”

“Kami telah mempelajari bahwa cara paling tepat untuk mendapatkan masukan dari masyarakat adalah dengan memakai cara yang tidak biasa, misalnya duduk bersama mengelilingi api unggun sambil membahas gagasan-gagasan secara santai selama beberapa hari. Saya perhatikan bahwa segera setelah para anggota kami berada pada situasi yang asing seperti misalnya di kantor, mereka akan menjadi malu dan gugup ketika harus menyampaikan gagasan. Padahal percakapan ini sangat penting dalam mendapatkan gagasan-gagasan pada tingkat desa untuk dimasukkan ke dalam proposal kami.”

Pakailah waktu anda untuk membangun hubungan yang baik dengan LSM-LSM yang lebih besar dan ditunjang oleh dana dengan baik. Kumpulkanlah informasi dari perspektif penduduk desa dengan pendekatan yang tidak biasa digunakan dalam proyek pembangunan.

“Meskipun sampai sekarang penulisan proposal sebenarnya masih dilakukan oleh staf  TDA, tetapi kami ingin membangun kemampuan penduduk desa untuk bisa menulis proposal dan menangani suatu proyek. Ini adalah tujuan utama kami tahun ini. Kami berusaha untuk melibatkan tetua masyarakat dan seseorang yang lebih mudah (misalnya lulusan SMA) dari setiap komunitas untuk berpartisipasi dalam lokakarya penulisan proposal. Ide dasarnya adalah untuk membuat mereka bekerja sama menulis proposal dalam suatu tim bagi kepentingan komunitas mereka sendiri.”

Laurie menawarkan beberapa nasehat kepada organisasi-organisasi lain yang juga terlibat dalam penulisan proposal: “Tunjukanlah bahwa anda telah menyelesaikan pekerjaan anda: bahwa anda telah dengan serius mengevaluasi risiko; bahwa anda mendapat dukungan dari masyarakat; dan bahwa proyek anda memberdayakan masyarakat. Jangan terburu-buru dalam menyelesaikan sebuah proposal. Pakailah waktu anda untuk membangun hubungan yang baik dengan LSM-LSM yang lebih besar dan ditunjang oleh dana dengan baik. Kumpulkanlah informasi dari perspektif penduduk desa dengan pendekatan yang tidak biasa digunakan dalam proyek pembangunan”.

“Sebagai contoh, kami telah seharian melakukan monitoring (pemantauan) dan evaluasi terhadap proyek terdahulu SEBELUM merancang proposal baru. Hal ini berguna dalam melaporkan pekerjaan kami dan juga menunjukkan kepada lembaga donor bahwa kami belajar dari pengalaman sebelumnya. Kami juga telah melakukan penilaian risiko (risk assessment) atas suatu proyek sebelum mencari dana, dan kami juga menyertakan laporan ini dalam proposal.

Risk assessment dilakukan oleh Dave dan saya sendiri. Kami telah membangun pengertian yang baik dengan sudut pandang anggota TDA terhadap suatu proyek (kami mengunjungi 18 desa selama tiga minggu untuk mengumpulkan pendapat masyarakat terhadap suatu fase dari proyek sebelumnya, dan juga untuk mengenali kekurangan berikut strategi dalam mengatasinya).

Sekali lagi, pelaksanaan risk assessment menunjukan kepada lembaga donor bahwa kami telah mengevaluasi kekurangan dengan teliti SEBELUM kami menyusun proposal”.

Disarikan dari buku: Buklet Penulisan Proposal (Buklet 2 dari 11 Seri Pengerahan Sumber Daya), Penulis: Nina Doyle, Halaman: 26-28.

Semoga Bermanfaat Bagi Kita Semua…Silahkan Bagikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s