HASIL TERBURUK DARI SEBUAH STARTUP BUKANLAH KEGAGALAN, MELAINKAN: MEDIOCRITY

Oleh: Dharmesh Shah, angel investor dari Boston, co founder dan CTO Hubspot, blogger di Onstartups.com.

Saya adalah fans dari Drew Houston, founder Dropbox. Saya telah mengenalnya sejak lama sebelum ia memulai Dropbox. Saya merasa terhormat memanggilnya dengan “teman”. Saya akan meng-cancel rencana saya bersama istri saya jika Drew dan saya tengah berada di kota yang sama. Hanya beberapa orang yang saya perlakukan seperti itu. Untungnya, istri saya menyukai Dropbox dan menggunakannya setiap hari.

Ada satu insight dan pelajaran besar yang saya ambil dari kisah Drew dan Dropbox. Hasil terburuk dari sebuah startup bukanlah kegagalan, melainkan mediocrity.

Drew Houston awalnya bekerja untuk Bit9, sebuah perusahaan security komputer di Boston, perusahaan yang bagus. Drew memiliki ide untuk membangun startup persiapan ujian SAT (atau SAT preparation, kalau di Indonesia semacam ujian masuk perguruan tinggi). Saat itu saya menemui dia pertama kalinya dan menurut saya kategori itu sangat kompetitif dan sulit menemukan diferensiasi, marketnya juga tidak besar. Saya tidak melihat sebuah terobosan bisnis.

Saya tahu bahwa Drew sangat smart – tetapi saya tidak melihat bukti yang cukup untuk melihat bahwa ia bisa menjadi entrepreneur hebat. Saya banyak bertemu orang yang smart dan benar-benar smart, hanya beberapa dari mereka yang memiliki modal menjadi pengusaha hebat. Bisa jadi Drew adalah salah satu great entrepreneur saat ini tetapi saya tidak mengetahuinya saat itu.

Melanjutkan cerita ini…

Drew kemudian mengabaikan ide SAT preparation untuk melakukan hal lain. Dia punya ide untuk mensinkronisasi file yang tersebar di banyak devices. Ini adalah masalah yang dia hadapi sendiri. Tentu saja ini juga market yang sangat kompetitif – tetapi ini adalah ide besar.

Ini adalah pelajaran besarnya:

(Banyak founder berpikir bahwa hasil terburuk baginya adalah kegagalan. Kamu mencoba sesuatu dan gagal. Tentu saja gagal itu tidak menyenangkan, tetapi apa yang lebih buruk dari kegagalan adalah menghasilkan outcome yang begitu-begitu saja tahun demi tahun. Yang terburuk adalah stuck di area “biasa-biasa saja” atau mediocrity. Semuanya berjalan baik tetapi tidak spektakular.)

Alasan “mediocrity” lebih buruk dari “failure” adalah: Kegagalan membuat diri kita move on dan berpindah ke project lainnya sedangkan “mediocrity” menjebak kita dan menahan kita dari mencapai potensi terbesar kita.

Tidak ada yang tahu apakah Accolade (startup persiapan SAT pertama dari Drew) akan sukses dengan fenomenal atau tidak, tetapi sangat meragukan jika Accolade bisa berhasil mendekati sukses fenomenal dari Dropbox. Jika Drew stuck dengan Accolade, bisa jadi Dropbox tidak pernah dilahirkan dan jutaan orang tidak mendapatkan manfaat dari Dropbox, juga kondisi Drew tidak akan sebaik sekarang. Karena baru-baru ini Drew mengatakan bahwa membangun Dropbox adalah proses yang super fun dan menyenangkan, kita semua bermimpi membangun startup seperti ini suatu hari nanti.

Drew tidak akan menggunakan energi dan talentanya dengan optimal jika saja dia stuck di project yang “biasa-biasa saja”. Tentu saja tidak bisa dibilang “buang-buang waktu”, karena hanya sedikit kegiatan entrepreneurial yang bisa dibilang buang waktu, hanya saja “tidak optimal”.

Bayangkan jika sekarang semua founder yang sedang stuck atau berjalan sideways biasa-biasa saja tiba-tiba memutuskan untuk mengambil kesempatan lain yang lebih besar dan memutuskan menjadi legenda. Seberapa baik mereka nantinya dan bagaimana kondisi dunia nantinya ?

Tentu saja banyak pendapat yang bertentangan dengan ini semua. Bagaimana kamu tahu bahwa kamu sedang stuck ? bukankah startup success adalah tentang persistence dan fokus ? Bagaimana kalau kesuksesan akan datang sedikit lagi ? Pertanyaan bagus.

Jawaban simplenya adalah: Tidak ada jawaban yang simple.

Jika saya ada dalam kondisi itu pertanyaan yang akan saya tanyakan adalah:

(Jika 90% dari semuanya berjalan dengan benar di startup saya, kira-kira seperti apa jadinya ? (saya menyebutnya, “gunakan tongkat ajaibmu” alias best case scenario) jika jawabannya tidak membuatmu senang dan kamu sudah berjalan dengan ide tersebut untuk beberapa waktu, saya menganjurkan untuk merubah idenya.)

Bahaya dari konsep “ramen profitability”:

(Salah satu hal menarik tentang startup di bidang software adalah memungkinkan untuk mencapai sebuah situasi “ramen profitability” yaitu sebuah situasi di mana perusahaan bisa menghasilkan uang yang cukup bagi founder hidup dengan makan ramen.) Namun hal ini juga hal yang buruk. Saat Anda sudah mencapai kondisi “ramen profitability” kemudian Anda kehabisan uang cash itu berarti Anda harus mencoba sesuatu yang baru. Tentu saja Anda bisa terus menjalankannya dan banyak juga entrepreneur yang terus memilih menjalankannya daripada membangun “the next dropbox” dan menjadi legenda.

Satu hal yang perlu saya klarifikasi: Saya tidak mengatakan bahwa bisnis yang stabil, sustainable dengan growth yang sedang adalah hal yang buruk. Tetapi jika bisnis ini bukanlah sesuatu yang diimpikan foundernya dan jika ia tidak passionate di situ maka ia harus move on.

Hidup itu singkat. Kita semua tidak harus membangun the next Dropbox tetapi kita harus mencapai batas talenta kita. Hal ini mengingatkan saya pada apa yang ditanamkan Tim O’Reilly di kepala saya : Pursue something so important that even if you fail, the world is better off with you having tried.

Easy to say, very hard to do. Mudah untuk saya mengatakan “Sudah, tinggalkan saja startup ini karena progressnya tidak ke mana-mana” tetapi tentu sangat mudah mengatakannya daripada melakukannya. Saya juga mengalami problem ini sendiri. It’s hard to let go. Sulit untuk mengabaikan sesuatu di mana kita sudah bekerja keras mencurahkan mimpi kita untuknya.

Sulit untuk mengakui “Kamu benar juga” Sulit karena kita manusia dan kita secara emosional terikat pada sesuatu yang sudah kita bangun. Hal-hal yang kita pertahankan melawan dunia yang dingin dan keras. Hal yang kita pelihara dan kita jaga. Sesuatu yang mendefinisikan identitas kita.

Saya tidak memiliki insight selain: Jujur pada diri kita sendiri dan pikirkan tentang opportunity costnya;

“Life is short. We have a limited amount of time to achieve our potential.”

Semoga Bermanfaat Bagi Kita Semua….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s