Kehormatan yang Mengandung Beban

Kenikmatan itu, kehormatan yang mengandung beban…

4926170_20130114114747

Sering kita menghormati orang lain karena nikmat yang dimilikinya: berpangkat, beruang, berilmu, beraura ketokohan, dll semisal itu. Mengapa ini terjadi? Sebab orang-orang inilah yg diasumsikan memegang kendali kehidupan: orang kaya bisa membantu dengan uangnya, orang berpangkat bisa mengubah aturan yang menata kehidupan, orang berilmu bisa mendidik dan mencerdaskan. Hanya saja ketika asumsi itu tidak terwujud, perlahan penghormatan itu pun luntur, akhirnya hanya basa basi, dan semua itu, PALSU !!!

Sebaliknya, ada orang yang bukan siapa-siapa karena tidak berpangkat, berilmu ataupun ber-uang. Akan tetapi, karena kualitas moral dan perannya, ia akhirnya memperoleh kehormatan, dan ini lebih murni. Maka jika nikmat dimiliki seseorang, lalu sepak terjangnya mendukung, penghormatan yang diberikan orang lain akan lebih tulus lagi.

Namun, dalam realitas kehidupan, banyak penghormatan palsu dan basa basi. Ini karena sering kita melihat orang yang memiliki nikmat lebih, tetapi tak berperan lebih di tengah kehidupan masyarakat. Ada orang yang hanya tamatan SD, tapi kualitas dan kiprahnya begitu nyata, tetapi ada pula yang tamatan SMA bahkan perguruan tinggi, tak memberi arti konkret bagi kehidupan di sekitarnya.

Bahkan ada orang yang mendapatkan nikmat bisa sekolah hingga master atau bahkan sekolah di luar negeri, tetapi ketika dicermati, tak sedikitpun memberi manfaat bagi sesama dengan ilmunya yg wah dan mahal itu, bahkan lebih asyik dengan dirinya sendiri. Padahal, betapa mahal nikmat dan kesempatannya bisa sekolah tinggi…

Prinsip yang sederhana: anni’matu tasyrif fihi taklif. Namun, jika diresapi akan membuat seseorang lebih bisa merasa bertanggungjawab akan nikmat yang Allah berikan. Akan malu bila membandingkan dengan sesamanya yang tidak seberuntung dirinya ketika dia tidak mengambil peran yang signifikan dalam hidupnya, untuk kemaslahatan orang lain..

Jika kita berilmu tetapi hidup kita tidak bermanfaat dengan ilmu kita…
Jika kita berpangkat tetapi tidak berguna pangkat kita...
Jika kita ber-uang tetapi tidak berefek sosial dengan harta kita...
Kehormatan bukan karena kita terpandang, tetapi pada pribadi kita...
Apakah pantas kita terpandang???
Lalu apa yang kita banggakan, dan bagaimana kita mempertanggungjawabkan semua nikmat itu, pada Sang Pemberi Nikmat kelak?

Sebelum terlambat, mari benahi langkah hidup kita…untuk meraih ridho Allah SWT.

Semoga Bermanfaat dan Berguna Untuk Kita Semua…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s