Betapa Bodohnya Kita, MENGIZINKAN PIHAK LUAR Merebut Kebahagiaan yang Sudah Kita Punya (Bersyukurlah)

wpid-20150301094515

Kalimatnya, Mempengaruhi Cintaku PadaMu…

1. Saudara laki-lakinya bertanya saat kunjungan seminggu setelah ia melahirkan, “Hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan?” “Tidak ada.” Jawabnya pendek saudara laki-lakinya berkata lagi, “masa sih… apa engkau tidak berharga di sisinya?? Aku bahkan sering memberi hadiah istriku walau tanpa alasan yang istimewa”. 
—- Siang itu… ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk di rumah…Keduanya lalu terlibat pertengkaran… Sebulan kemudian… Antara suami istri ini terjadi perceraian..
#Dari mana sumber masalah??? Kalimat sederhana yang diucapkan saudara laki-laki sang istri….
2. Ibunya bertanya, “Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit?? bukankah anak-anakmu banyak??”
—- Rumah yang tadinya terasa lapang sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya. Ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank.
3. Seorang teman bertanya, ”Berapa gajimu sebulan kerja di toko si fulan??” Ia menjawab, “1 juta rupiah.”, “Cuma 1 juta rupiah… Sedikit sekali ia menghargai keringatmu.. apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu??”
—- Sejak saat itu ia jadi membenci pekerjaannya. Ia lalu meminta kenaikan gaji pada pemilik toko. Pemilik toko menolak dan mem-PHK nya. Kini ia malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran.
4. Seseorang bertanya pada kakek tua itu, “Berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan??”
Si kakek menjawab, “sebulan sekali”. Sang penanya menimpali, “wah keterlaluan sekali anak-anakmu itu. Di usia senjamu ini seharusnya mereka mengunjungimu lebih sering“.
—- Hati si kakek menjadi sempit padahal tadinya ia amat rela terhadap anak-anaknya. Ia jadi sering menangis dan ini memperburuk kesehatan dan kondisi badannya…

5. Disuatu tempat saat acara makan malam bersama,

Seorang laki-laki dan perempuan yang baru saja saling mengenal dan berpasangan,
saat kekasihnya meninggalkan si perempuan, mengambil minuman untuknya,
salah seorang teman laki-laki dari kekasihnya berkata kepada si perempuan:
Kok kamu mau bersama dengan dia? kalau aku jadi kamu, aku sih tidak mau

—- Saat kekasihnya datang, si perempuan berkata kepada kekasihnya, masa si “A” tadi berkata begini, kalau “A” jadi pacar kamu ia tidak mau. “aku jadi kepikiran” kata perempuan itu, tetapi si laki-laki tidak terlalu menghiraukan, dan menganggap itu hanya sekedar gurauan/bercandaan, dan mengatakan.. mungkin saja maksudnya “A”, ya tentu saja ia tidak mau jadi pacarku, tapi langsung meminta aku jadi suaminya” kata laki-laki itu.

—- Tidak butuh waktu lama, semenjak saat itu, sifat dan sikap perempuan berubah. Perkataan teman laki-laki kekasihnya saat itu benar-benar mempengaruhi pikirannya. Segala hal yang kekasihnya lakukan menjadi negatif. Kesalahan kecil terasa besar

“melarang demi kebaikan, dikira mengatur.
menegur demi kebaikan, dikira mau merubah.”

—- laki-laki itu diabaikan, diacuhkan oleh si perempuan, tak ada lagi sapaan pagi yang seperti biasa yang membuatnya tersenyum dan siap melawan dunia, tak ada lagi sapaan selamat beristirahat dan makan siang yang membuatnya kembali bersemangat saat bekerja, dan tak ada lagi sapaan saat malam datang,
yang menyeka rasa lelahnya.

—- Saat itu, kekasihnya bertanya-tanya, bersabar menunggu penjelasan dari si perempuan, sampai satu minggu kemudian setelah melewati hangat kasih sayang yang tiba-tiba menjadi dingin bagai tak punya perasaan. Dikala malam ketika laki-laki itu hendak beristirahat dari lelahnya bekerja, perempuan itu menghubunginya, tetapi laki-laki itu meminta.. “besok saja, aku lelah..” akan tetapi perempuan itu tetap menghubungi.

—- Pada akhirnya, perdebatan panjang tidak terelakkan, laki-laki itu meminta penjelasan, apa yang terjadi sampai sikap dan sifat perempuan itu berubah..

—————–
Perempuan :

Aku tidak suka kamu mengatur-atur aku, waktu aku dengan sahabatku kamu menyuruhku untuk segera pulang“.

Laki – Laki :

“Hari sudah jam 9 malam, sementara sahabatmu bersama kekasihnya. saat selesai belajar bersama nanti, kalian berpisah, sahabatmu pulang diantar kekasihnya, dirimu pulang sendiri. aku mengatakan segera pulang jangan terlarut malam atau aku akan menghampiri.”
—- Tujuan laki-laki itu menghampiri adalah dengan maksud menemani kekasihnya pulang nanti, sampai malam jam berapapun akan ditunggu dan ditemani, demi mengantar kekasihnya pulang sampai dengan selamat, karena khawatir belakangan terjadi peristiwa yang kerapkali kaum perempuan sebagai korban, apalagi mengendarai motor sendiri. Tetapi si perempuan beranggapan bahwa kekasihnya akan menghampiri dengan kesal dan marah. (Sangat disayangkan, si perempuan saat itu tidak bisa membedakan antara kemarahan dan ketegasan)

—————–
Perempuan :

“Apa coba maksudnya menawarkan model jilbab seperti itu, aku gak mau, belum waktunya, bukannya secara tidak langsung kamu memaksa?”

Laki – Laki :

“Aku heran, apa aku pernah memaksa? apa ada kata ‘harus’, semalam aku mengatakan padamu ingin memperlihatkan model jilbab yang baru-baru ini dijual oleh rekan sekantorku. baru semalam kita bercerita dengan ceria, aku kirim model jilbab itu, aku bertanya, apakah kamu suka? aku ingin kamu mencoba, pasti terlihat lebiiiih cantik dari biasanya.”

—- Tetapi si perempuan, menganggap kekasihnya itu ingin merubah penampilannya, dengan melihat model jilbab baru yang terlihat lebih lebar dan menutupi bagian depan perempuan dari ketatnya pakaian.
Laki – Laki :

“Dirimu pernah berkata, seringkali dilihat oleh banyak mata laki-laki, dan tidak jarang mereka menggoda, aku merasa, pakaianmu masih mengundang mereka untuk melihatmu, terutama bagian depanmu. karena itu aku menawarkan model jilbab itu, kalau dirimu tidak mau ya tidak apa-apa, sekali lagi.. apakah aku memaksa?”

—– Laki-laki itu membimbing perlahan, tanpa paksaan. Tanpa kata ‘harus’, disetiap kalimat saat ia menyampaikan. Akan tetapi, mungkin perkataan temannya disaat acara makan malam itu benar-benar telah mempengaruhi pikiran dan penilaian si perempuan.

—- Akhinya, setelah melewati perdebatan-perdebatan panjang, dan penjelasan berakhir, laki-laki itu sedih dan menangis, hatinya sakit, itu pertama kali ia mengalami hal seperti ini. ia berdiri, setelah menyeka air matanya, segera berwudhu, lalu mengambil kitab suci Al-qur’an dan membacanya, terkadang terisak, lalu membacanya lagi, terisak sesekali menyeka air matanya yang mulai jatuh menetes mengenai lembaran Al-Qur’an yang dipegangnya, begitu terus berulang kali, sampai ia tertidur karena kelelahan sampai datang matahari pagi.

—- Perubahan sifat dan sikap perempuan tersebut membuat laki-laki itu sakit hati, semua terasa amat keji. dirinya tidak bisa tidur beberapa malam memikirkan kesalahan apa yang sudah ia lakukan, yang membuatnya harus melalui semua ini, dan ia turut menyesali mengungkapkan kebaikan yang selama ini ia sembunyikan…


Apa sebenarnya keuntungan yang kita dapat..
ketika bertanya seperti pertanyaan-pertanyaan di atas??

Jagalah diri dari mencampuri kehidupan orang lain. Mengecilkan dunia mereka. Menanamkan rasa tak rela pada apa yang mereka miliki. Mengkritisi penghasilan dan keluarga mereka, dan sebagainya. Karena apa??? Karena tentu kita akan menjadi agen kerusakan di muka bumi dengan cara ini. Bila ada bom yang meledak cobalah intropeksi diri. Bisa jadi kitalah yang menyalakan sumbu nya….

Muslim menjaga lisan dan tangan

Sebetulnya masih banyak contoh-contoh lain…betapa bodohnya kita, MENGIZINKAN PIHAK LUAR merebut kebahagiaan yang sudah kita punya. (BERSYUKURLAH)

Sumber: Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s